Share Article
Jumat, 05 September 2014 - 13:56:56 WIB

MEMBANGUN SEKOLAH DI ATAS LAUT

Diposting oleh : Administrator
Kategori: Kisah Indonesia - Dibaca: 4443 kali

Ternyata, masih ada kehidupan di kawasan yang semua lahannya dipenuhi mangrove. Salah satunya, SD Ujungalang 01 Filial Bondan (Kelas Jauh) yang berada di Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, hasil campur tangan BRI.

Karena hidup terisolir, kebanyakan bangunan di wilayah yang berlokasi satu jam dari Lapas Nusa Kambangan, itu pun berdiri seadanya. Umumnya, rumah mereka hanya berupa gubuk dari bambu dan beratap asbes. Tak terkecuali, sekolah yang memiliki 38 siswa itu.

Semua siswa di sekolah tersebut belajar dalam ruangan yang sama. Tak ada sekat, penerangan, kecuali ‘senter alam’ dari teriknya sinar matahari. Kalau hujan, kehujanan. Kalau siang, kepanasan. Begitu celoteh Yanti, siswi kelas 2 SD.

Ruangan tanpa sekat, itu diisi tiga kelas, tiga papan tulis dan seorang guru. Apudin, guru yang baru saja lulus kejar paket B, atau SMP tahun 2012, itu biasanya mengajar secara maraton dari kelas satu sampai kelas tiga. Siang harinya, pria asal Karawang yang penuh dedikasi, ini mengajar siswa kelas empat sampai enam.

Ruang belajar seadanya, nyatanya tak mempengaruhi semangat belajar para siswa. Menurut Apudin, tingkat absensi siswanya nyaris nihil. Mereka tetap ke sekolah meski hujan. Kecuali, kalau sakit, kata ayah dua anak itu. Kini, cerita itu tinggal kenangan. Setelah BRI datang membangun satu lokal tak jauh dari bangunan lama, menjelang Ramadhan 2013. Kabar mengenai rencana pembangunan sekolah yang menelan biaya Rp 123 juta, itu disambut antusias oleh warga. Termasuk, pejabat pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan setempat.

MENULARKAN AKSI Ini hasil blusukan, kata Corporate Secretary BRI, Muhamad Ali mengawali kisah perbankan tertua di Indonesia itu menemukan sekolah kelas jauh di Cilacap.

Kedekatan antara BRI cabang Cilacap dengan Dinas Pendidikan setempat mengantarkan BRI menuju SD Ujungalang 01 Filial Bondan (Kelas Jauh). Setelah menempuh jarak sekitar 45 menit menggunakan perahu, BRI tiba di saat sekolah nyaris ambruk, itu tengah melakukan kegiatan belajar mengajar.

Kondisinya yang jauh dari layak, membuat siapapun yang melihat situasi tersebut hanya bisa menarik napas. Tercenganglah kami, kata Ali yang lantas berinisiatif membangun satu lokal demi kenyaman para siswa.

Sebenarnya, bukan perkara mudah bagi BRI untuk mendirikan bangunan di area tersebut. Selain tanahnya labil dan kerap terendam air pasang, mereka pun harus mendatangkan bahan material langsung dari Cilacap menggunakan perahu. Bayangan serba sulit sekejap sirna, karena warga sukarela membantu kelancaran proses pembangunan.

Inisiatif BRI ternyata memacu pihak lain untuk melakukan aksi serupa. Pemda melalui Dinas Sosial, misalnya, ikut membangun satu lokal, sejajar dengan bangunan yang didirikan BRI. Sehingga, sekolah yang berdiri sejak 2002, tersebut saat ini telah memiliki dua lokal. Pemda pun membangun toilet di samping sekolah, sementara wali murid, gotong royong membangun pagar. Kini, sekolah bercat biru-putih itu tampak paling mencolok di antara bangunan lain.

Adanya dua lokal, memungkinkan Apudin untuk fokus mengajar semua kelas di pagi hari. Sementara pada siang hari, ia mengais rezeki dengan menjadi penambak udang. Kalau tidak begitu, bagaimana saya bisa menafkahi istri dan anak-anak saya? katanya sembari tersenyum.

Maklum, walau sehari-hari mengenakan baju PNS dan mengajar layaknya guru, Apudin harus berlapang dada. Latar belakang pendidikannya yang hanya tamatan SD, membuat keberadaannya hanya disejajarkan setingkat karya bakti atau penjaga sekolah, dengan pendapatan Rp 200 ribu per bulan. Kebijakan itu, toh, tak mengendurkan niatnya untuk terus mengajar.

Segitu pun, saya sudah alhamdulillah. Saya sudah terdaftar dan dikatakan layak untuk membuka sekolah, meski ketika itu, hanya mengajar di rumah, imbuhnya, haru.

Bagi Apudin, bantuan BRI yang kemudian diikuti oleh banyak pihak, bagaikan jawaban atas segala doanya. Ketika saya ikhlas mengabdikan fikiran dan tenaga saya, Allah memberikan balasan bertubi-tubi, ujarnya.

Ia jadi makin semangat mengajar. Selama tenaga dan fikiran saya masih diperlukan, saya diberikan sehat dan umur panjang, insya Allah, saya siap, ujarnya mantap

. PRIHATIN Sekolah ini berdiri atas inisiatif Apudin. Dia yang baru saja migrasi bersama orangtuanya ke Kampung Laut meninggalkan kota kelahirannya, Karawang, merasa prihatin dengan banyaknya anak-anak di daerah tersebut yang tidak bersekolah. Alasannya, lokasi yang ditempuh terlampau jauh dan hanya dapat ditempuh dengan menggunakan perahu. Sementara angkutan umum andalan warga Kampung Laut, itu tidak tersedia setiap saat. Sekali jalan, mereka harus mengeluarkan biaya hingga Rp 8.000, sedangkan untuk makan sehari-hari saja sulit.

Namun, anak-anak selalu mengangguk penuh semangat tiap kali Apudin bertanya soal keinginan mereka bersekolah. Besarnya semangat, itu ternyata menjalar hingga ke urat nadinya. Sampai-sampai, pria kelahiran Karawang, 19 Oktober 1981, itu lupa, kalau ia pun, ketika itu, hanyalah lulusan SD. Termasuk, ikut mengubur niat awalnya menetap di Kampung Laut untuk mengadu nasib. Mengingat, daerah tersebut memiliki banyak lahan tidur yang dapat dimanfaatkan untuk usaha tambak udang.

Ia memberanikan diri mengunjungi SD Induk Ujungalang untuk mengajukan permohonan membuka kelas. Kepala sekolah merespons positif. Asalkan, di Kampung Laut sudah tersedia gedung sekolah, kata Apudin seraya tersenyum mengenang.

Apudin lantas mengiyakan. Padahal, tak ada kelas apalagi gedung untuk anak-anak bersekolah. Ia tak putus asa. Suami dari Ani Suhani ini merelakan rumahnya menjadi kelas untuk aktivitas belajar mengajar. Meski dengan ruangan seadanya, pengetahuan serba terbatas, Apudin bangga karena mampu merangkul 12 siswa di hari pertama peresmian sekolah barunya. Jumlah siswanya bahkan terus bertambah setiap tahun.

Melihat kesungguhan Apudin, dua tahun kemudian, warga berinisiatif mendirikan sekolah secara swadaya. Sulitnya mendapatkan material dan keterbatasan dana, membuat mereka hanya mampu membangun ruangan seluas 9 x 5 m2 dengan memanfaatkan hasil alam. Seperti, pelepah daun rumbia untuk membangun dinding bangunan dan daun kelapa sebagai atapnya. Dua tahun kemudian, tepatnya 2006, masyarakat membangun ruangan kelas yang lebih kokoh dengan memanfaatkan sisa material dari Dinas Sosial untuk warga Kampung Laut yang termasuk kategori Komunitas Adat Terpencil.

Tanpa terasa, hingga saat ini, sekolah kelas jauh yang berdiri atas dedikasinya, itu telah meluluskan enam angkatan. Kedua matanya mendadak berkaca-kaca ketika ditanya soal kabar alumnus SD Ujungalang 01 Filial Bondan. Ada yang meneruskan ke SMP, SMA, SMK. Ada juga yang sudah bekerja, paparnya bangga.

Kepada mereka, ia berpesan, Meski pernah bersekolah di gubuk, semoga mereka tetap semangat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Kelak, bisa berguna bagi masyarakat dan bangsa. Dan, melanjutkan jejak saya, ujar Apudin seraya berharap Dinas Pendidikan menempatkan tenaga pengajar tambahan untuk membantu kegiatan belajar mengajar di sekolahnya.

Atas dedikasi sang guru, BRI berencana merenovasi rumah Apudin. Semoga upaya apa yang sudah kita bangun bermanfaat bagi guru dan siswa. Siswa makin semangat belajar, melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka pun bisa bersejajar dengan kawan-kawannya di luar sana, pungkas Ali.

Teks & Foto: Ratna Kartika




Isi Komentar :
  • Bank BRI Meluncurkan Teras Kapal BRI Pertama di Indonesia di Kepulauan Seribu
  • Bank BRI Bekerjasama dengan LKBN Antara menyelenggarakan Lomba Foto UMKM untuk Kategori Jurnalis dan
  • Bank BRI Bekerjasama dengan Kompas melaksanakan Program Teras Usaha Mahasiswa di 6 Kota di Indonesia
  • Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan meresmikan Hunian Tetap Warga di Banja
  • BRI akan melakukan perbaikan sarana prasarana sanitasi dan kesehatan lingkungan kawasan kumuh kota

1640342

Pengunjung hari ini : 510
Total pengunjung : 601218
Hits hari ini : 1019
Total Hits : 1640342
Pengunjung Online : 18
Pilih Program Prioritas Anda?

Lihat Hasil Poling